Perbedaan TOEFL ITP, TOEFL iBT, dan IELTS Terbaru
Pertanyaan yang paling sering masuk ke meja saya bukan “mana yang lebih sulit”, melainkan “saya sudah punya skor TOEFL, apakah masih berlaku”. Sejak awal tahun ini, jawabannya jadi lebih rumit dari sebelumnya, dan alasannya jarang muncul di halaman berbahasa Indonesia mana pun yang saya periksa pada 3 September 2026.
ETS mengubah skala skor TOEFL iBT. Sejak 21 Januari 2026, ujian itu dinilai dengan skala 1 sampai 6 berkelipatan setengah poin, diselaraskan dengan Kerangka Acuan Umum Eropa untuk Bahasa. Skala 0 sampai 120 yang selama puluhan tahun jadi patokan tidak langsung hilang: selama masa transisi dua tahun setelah Januari 2026, lembar skor memuat kedua format sekaligus. Artinya, kalau kamu membaca tabel perbandingan yang hanya menampilkan angka 0 sampai 120 tanpa keterangan tanggal, tabel itu sudah tidak lengkap.
Semua angka di artikel ini saya ambil dari halaman resmi ETS dan IELTS, dan saya periksa pada 3 September 2026. Untuk hal-hal yang bisa berubah seperti ini, tanggal pemeriksaan lebih penting daripada tabelnya sendiri.
Ketiganya adalah tiga alat berbeda, bukan tiga tingkat kesulitan
Salah paham yang paling mahal adalah menganggap TOEFL ITP versi mudah dari TOEFL iBT, dan IELTS versi lain dari keduanya. Ketiganya mengukur hal yang tidak sama.
TOEFL ITP tidak menguji kemampuan berbicara maupun menulis dalam bentuk esai. Menurut halaman isi ujian ETS, Level 1 terdiri dari tiga bagian saja: Listening Comprehension 50 soal dalam 35 menit, Structure and Written Expression 40 soal dalam 25 menit, dan Reading Comprehension 50 soal dalam 55 menit. Totalnya 115 menit. Bagian berbicara hanya tersedia sebagai tambahan terpisah pada versi digital, dengan waktu 15 menit sendiri.
TOEFL iBT menguji empat keterampilan. IELTS juga empat, tetapi dengan bagian berbicara berupa wawancara tatap muka bersama penguji, bukan rekaman.
| TOEFL ITP Level 1 | TOEFL iBT | IELTS Academic | |
|---|---|---|---|
| Bagian | Listening, Structure, Reading | Reading, Listening, Writing, Speaking | Listening, Reading, Writing, Speaking |
| Durasi | 115 menit | sekitar 2 jam termasuk instruksi | 2 jam 45 menit |
| Rentang skor | 310 sampai 677 | 1 sampai 6 (setengah poin) | 0 sampai 9 (setengah band) |
| Bicara diuji? | tidak, kecuali modul tambahan | ya, direkam | ya, wawancara langsung |
| Masa berlaku | 2 tahun | 2 tahun | 2 tahun |
Rincian jumlah soal iBT menurut ETS: Reading 50 soal dalam 30 menit, Listening 47 soal dalam 29 menit, Writing 12 soal dalam 23 menit, dan Speaking 11 soal dalam 8 menit. Waktu mengerjakan sesungguhnya sekitar 90 menit, dan ETS menyarankan menyediakan sekitar dua jam untuk keseluruhan sesi.
Untuk IELTS Academic, situs resminya mencantumkan Listening sekitar 30 menit, Reading 60 menit termasuk waktu memindahkan jawaban, Writing 60 menit, dan Speaking 11 sampai 14 menit.
Cara skor dihitung, dan kenapa itu penting saat menargetkan angka
Di sinilah perbedaan ketiganya berdampak langsung pada strategi belajar.
Skor TOEFL ITP adalah hasil penjumlahan tiga skor bagian yang masing-masing berkisar 31 sampai 68, kecuali Reading yang 31 sampai 67, lalu dikonversi ke rentang total 310 sampai 677. Karena penjumlahan, kelemahan pada satu bagian bisa ditutup kekuatan di bagian lain. Kalau targetmu skor total dan waktumu terbatas, memperbaiki bagian yang paling mudah dinaikkan adalah strategi yang sah.
Skor keseluruhan TOEFL iBT dan IELTS dihitung berbeda: keduanya adalah rata-rata empat bagian, dibulatkan ke setengah terdekat. Konsekuensinya berkebalikan dengan ITP. Satu bagian yang jauh tertinggal akan menarik turun keseluruhan, dan menaikkan bagian yang sudah tinggi memberi hasil lebih kecil daripada menaikkan bagian yang paling rendah.
IELTS memberi contoh perhitungan yang enak dipakai sebagai latihan. Listening 6,5 ditambah Reading 6,5 ditambah Writing 5,0 ditambah Speaking 7,0 menghasilkan rata-rata 6,25, yang dibulatkan menjadi 6,5. Aturan pembulatannya: rata-rata berakhiran 0,25 naik ke setengah band berikutnya, dan berakhiran 0,75 naik ke band bulat berikutnya.
Coba hitung sendiri satu kasus. Kalau Writing pada contoh di atas naik dari 5,0 menjadi 6,0, rata-ratanya menjadi 6,5 dan band keseluruhan menjadi 6,5 juga. Kenaikan satu band penuh di bagian terlemah ternyata tidak mengubah hasil akhir di kasus ini, karena pembulatan sudah menguntungkan sebelumnya. Perhitungan seperti ini yang membuat menargetkan band tertentu perlu dilakukan dengan kalkulator, bukan dengan perasaan.
Pada TOEFL iBT, ETS memberi contoh serupa: rata-rata 5,25 menghasilkan skor keseluruhan 5,5.
Untuk dua bagian IELTS yang berbentuk pilihan jawaban, situs resminya juga membuka angka mentah di balik band, dan ini yang paling berguna saat berlatih dengan simulasi. Listening dan Reading masing-masing 40 soal, satu jawaban benar bernilai satu. Ambang yang dicantumkan untuk Listening: 16 benar untuk band 5, 23 untuk band 6, 30 untuk band 7, dan 35 untuk band 8. Reading Academic hampir sama, hanya band 5 yang sedikit lebih rendah, 15 benar. Reading General Training lebih ketat: 30 benar baru band 6, dan 35 benar baru band 7.
| Jawaban benar dari 40 | Listening | Reading Academic | Reading General Training |
|---|---|---|---|
| 15 sampai 16 | band 5 | band 5 | band 4 |
| 23 | band 6 | band 6 | band 5 |
| 30 | band 7 | band 7 | band 6 |
| 35 | band 8 | band 8 | band 7 |
Latihan kecilnya: kalau simulasi Listening-mu benar 27 dari 40, kamu berada di antara band 6 dan 7, dan jarak ke band 7 tinggal tiga soal. Tiga soal itu jauh lebih mudah dikejar daripada “naik satu band” yang terdengar abstrak. Writing dan Speaking tidak punya tabel semacam ini; keduanya dinilai penguji dengan empat kriteria berbobot sama, dan untuk Writing, Task 2 dihitung lebih berat daripada Task 1.
Urutan memutuskan: mulai dari tujuan, bukan dari ujiannya
Pilih ujian dari belakang, yaitu dari lembaga yang akan menerima skormu. Urutan berikut yang saya pakai saat mendampingi murid.
Pertama, tanyakan apakah lembaga tujuanmu menyebut nama ujian secara spesifik. Banyak kampus dan pemberi beasiswa menuliskan satu atau dua nama saja. Kalau begitu, keputusan sudah selesai di langkah pertama dan sisa artikel ini hanya untuk memperkirakan persiapan.
Kedua, kalau tujuannya administrasi dalam negeri, seperti syarat kelulusan kampus, seleksi internal, atau kenaikan jabatan, TOEFL ITP biasanya cukup dan paling murah waktunya. Ia hanya 115 menit dan tidak menguji berbicara.
Ketiga, kalau tujuannya studi atau bekerja di luar negeri, hampir selalu dibutuhkan ujian yang menguji empat keterampilan, yaitu iBT atau IELTS. Pilihan di antara keduanya lebih ditentukan kenyamanan format daripada tingkat kesulitan: bagian berbicara iBT direkam tanpa lawan bicara, sedangkan IELTS berupa percakapan dengan manusia. Orang yang gugup berbicara ke mikrofon kosong biasanya lebih baik di IELTS, dan sebaliknya.
Keempat, periksa apakah lembaga tujuanmu sudah menerima skala baru 1 sampai 6. Karena masa transisi masih berjalan, lembar skor iBT saat ini memuat kedua skala, sehingga pendaftaran ke lembaga yang masih memakai skala lama tetap bisa dilakukan tanpa konversi manual. Ini kabar baik yang perlu diketahui sebelum panik.
| Tujuan | Ujian yang biasanya cocok | Alasan utama |
|---|---|---|
| Syarat kelulusan atau seleksi internal kampus di Indonesia | TOEFL ITP | Durasi paling pendek, tanpa ujian bicara |
| Beasiswa dan studi luar negeri | TOEFL iBT atau IELTS | Menguji empat keterampilan |
| Migrasi dan sebagian keperluan kerja | IELTS | Sering diminta secara spesifik oleh lembaga penerima |
| Belum tahu tujuan, ingin mengukur kemampuan | TOEFL ITP | Biaya dan waktu paling ringan sebagai pengukur awal |
Ambang CEFR: cara membaca skor tanpa bergantung pada angka mentah
Perubahan skala iBT ke rentang 1 sampai 6 sebenarnya membawa satu keuntungan yang jarang disebut: skor jadi lebih mudah dibandingkan lintas ujian, karena keduanya kini bersandar pada kerangka yang sama.
ETS juga memetakan skor TOEFL ITP ke tingkat CEFR. Pada halaman penilaian ITP, skor total 343 menjadi ambang terendah yang dipetakan ke tingkat A2, sedangkan 620 menjadi ambang untuk tingkat C1 pada Level 1. Untuk Level 2, yang ditujukan bagi peserta dengan kemampuan lebih dasar, pemetaannya berhenti di rentang yang lebih rendah, dengan 343 sebagai ambang A2 dan 433 sebagai ambang B1.
Kegunaan praktisnya begini. Kalau sebuah beasiswa menyebut syarat setara B2 tanpa menyebut nama ujian, kamu bisa menakar posisimu dari ujian mana pun yang sudah pernah kamu ambil, lalu memperkirakan jarak yang tersisa. Ini lebih berguna daripada tabel konversi antarujian yang beredar bebas, karena tabel semacam itu sering tidak menyebutkan sumber dan tidak pernah persis, mengingat ketiga ujian tidak mengukur susunan keterampilan yang sama.
Satu catatan kejujuran: konversi antarujian selalu perkiraan. TOEFL ITP tidak menguji berbicara, sehingga skor ITP yang dipetakan ke B2 tidak berarti kemampuan berbicaramu berada di B2. Kalau lembaga tujuanmu peduli pada kemampuan berbicara, mereka akan meminta ujian yang mengujinya.
Dua Level TOEFL ITP yang sering tertukar
Nama TOEFL ITP menaungi lebih dari satu ujian, dan ini sumber kebingungan yang sering saya temui di ruang kelas.
Level 1 adalah yang dimaksud hampir semua orang ketika menyebut TOEFL ITP: tiga bagian, 115 menit, rentang skor 310 sampai 677. Versi inilah yang biasanya diminta kampus sebagai syarat kelulusan atau seleksi.
Level 2 ditujukan bagi peserta dengan kemampuan lebih dasar, dan rentang pemetaan CEFR-nya berhenti lebih rendah. Kalau kamu mendaftar ujian dan tidak memperhatikan level yang diambil, ada kemungkinan lembar skormu tidak memenuhi syarat meski nilainya terlihat bagus.
Karena itu, saat mendaftar, pastikan tiga hal tertulis jelas di formulir: nama ujian, levelnya, dan siapa penyelenggaranya. Ketiganya akan muncul di lembar skor, dan ketiganya yang akan diperiksa penerima.
Masa berlaku: satu-satunya angka yang seragam
Ketiga ujian sama-sama berlaku dua tahun sejak tanggal ujian. Buku panduan peserta TOEFL ITP menyatakan skornya berlaku dua tahun dan ETS tidak dapat melaporkan atau mengonfirmasi skor di luar rentang itu, dengan alasan kemampuan bahasa bisa berubah cukup jauh dalam waktu yang relatif pendek. IELTS menyebutkan hal yang sama, dengan tambahan bahwa lembaga penerima boleh menerima skor lebih lama atas kebijakan mereka sendiri.
Konsekuensi praktis untuk perencanaan: kalau rencana mendaftarmu masih lebih dari dua tahun lagi, mengambil ujian sekarang berarti kemungkinan besar harus mengulang. Yang lebih masuk akal adalah mengambil ujian yang murah sebagai pengukur, lalu mengambil ujian resmi mendekati waktu pendaftaran.
Jangan lupa menghitung mundur dari tenggat pendaftaran juga. Untuk iBT, ETS menyatakan skor resmi tersedia di akun peserta tiga hari setelah tanggal ujian, laporan PDF bisa diunduh sehari setelah itu, dan salinan kertas baru dikirim 11 sampai 15 hari setelah ujian. Kalau lembaga tujuanmu mensyaratkan laporan kertas resmi, tanggal ujian paling lambat harus mundur dua sampai tiga minggu dari tenggatnya.
Berapa lama persiapannya, dan bagaimana menakarnya
Pertanyaan berikutnya yang selalu menyusul adalah lama persiapan. Saya tidak akan memberi angka umum, karena angka semacam itu selalu menyesatkan: titik berangkat setiap orang berbeda, dan jarak dari B1 ke B2 tidak sama panjangnya dengan jarak dari B2 ke C1.
Yang bisa saya berikan adalah cara menakarnya sendiri dalam satu sore. Ambil satu simulasi lengkap dari penyelenggara, kerjakan dengan waktu yang benar-benar dijaga, lalu catat skor per bagian, bukan hanya totalnya. Setelah itu, tempatkan hasilnya pada dua sumbu: jarak ke target, dan bagian mana yang paling jauh dari target.
Untuk ujian yang skornya dijumlahkan seperti ITP, prioritas jatuh pada bagian yang kenaikannya paling murah, biasanya Structure, karena materinya terbatas dan berpola. Untuk ujian yang skornya dirata-ratakan seperti iBT dan IELTS, prioritas jatuh pada bagian yang paling rendah, karena bagian itulah yang menahan rata-rata.
Perbedaan strategi ini terlihat sepele tetapi berdampak besar pada penjadwalan. Peserta ITP yang menghabiskan seluruh waktunya di Reading sering kecewa karena kenaikannya paling lambat. Peserta IELTS yang menghabiskan seluruh waktunya di Reading, padahal Writing-nya yang tertinggal, akan melihat band keseluruhannya tidak bergerak sama sekali.
Yang harus kamu periksa sendiri sebelum mendaftar
Tiga hal berikut berubah lebih sering daripada isi ujian, dan tidak ada artikel yang bisa menjaminnya tetap benar untukmu.
Biaya dan jadwal berbeda antarpenyelenggara dan antarkota, dan berubah setiap tahun. Angka yang beredar di media sosial hampir selalu tertinggal. Buka situs penyelenggara di kotamu sendiri.
Skala yang diterima lembaga tujuanmu perlu dipastikan langsung ke lembaga itu, terutama selama masa transisi skala iBT masih berjalan. Halaman persyaratan yang jarang diperbarui bisa saja masih menampilkan ambang dalam skala lama.
Jenis ITP yang diakui juga perlu dicek. Sebagian lembaga hanya menerima ITP yang diselenggarakan lembaga berlisensi, bukan simulasi internal yang sering disebut prediction. Perbedaan ini menyangkut keabsahan lembar skor, bukan tingkat kesulitan soal.
Sisi persiapannya sendiri lebih mudah ditebak. Bagian Structure pada ITP dan sebagian soal Writing pada iBT maupun IELTS menyasar hal yang sama: kesesuaian subjek dengan kata kerja, artikel, dan preposisi. Ketiganya justru titik lemah paling umum penutur Indonesia, dan saya bahas satu per satu di kesalahan tata bahasa yang khas penutur Indonesia.